-
Info Sekolah
Sabtu, 27 Jul 2024
  • SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI SMK NEGERI 3 WAJO
  • SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI SMK NEGERI 3 WAJO

Pengertian Pendidikan Sistem Ganda

Terbit : Jumat, 24 Januari 2020

Pendidikan sistem ganda sebagai alternatif pola pembelajaran di SMK ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Nomor 323/U/1997, yaitu:

“Pendidikan sistem ganda selanjutnya disebut PSG adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian kejuruan yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah menengah kejuruan dengan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui bekerja langsung pada pekerjaan sesungguhnya di institusi pasangan, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu (pasal 1; ayat 1)”.

PSG merupakan suatu kombinasi antara penyelenggaraan pembelajaran di sekolah (SMK) dengan penyelenggaraan praktek kerja industri (prakerin) di institusi kerja pasangan (perusahaan; jasa, dagang, industri), secara sinkron dan sistematis, bertujuan menghantarkan peserta didik pada penguasaan kemampuan kerja tertentu, sehingga menjadi lulusan yang berkemampuan relevan seperti yang diharapkan.

PSG yang dikenal dengan istilah dual system atau dual education system  dapat dijelaskan sebagai berikut: “A dual education system is practiced in several countries, notably Germany, Austria and Switzerland, but also Denmark, the Netherlands and France, and for some years now in China and other countries in Asia: It combines apprenticeships in a company and vocational education at a vocational school in one course” (from Wikipedia, the free encyclopedia; 2011). Pendidikan sistem ganda yang dilaksanakan pada beberapa negara, seperti; Jerman, Austria and Swiss, juga Denmark, Belanda dan Francis, dan beberapa tahun terakhir di China dan di beberapa Negara Asia, merupakan kombinasi antara praktek kerja di perusahaan dan pelaksaan pembelajaran di sekolah kejuruan yang terintegrasikan dalam satu kegiatan.

Secara khusus, Pendidikan sistem ganda pada sekolah-sekolah kejuruan di Jerman, adalah :

REPORT THIS AD

Vocational training in the Federal Republic of Germany is divided in on-the-job training and theoretical education in vocational training schools. This system in called the dual system. The characteristic feature of this system is that theoretical knowledge and practical skills are combined already during the training. Only on-the-job will a trainee be able to learn how to cope with the constantly changing demands of the job and to appreciate the variety of social relationships that exist in the working life” (www.rheinneckar.ihk24.de; 2011).

Pendidikan kejuruan di Republik Federal Jerman adalah kombinasi antara kegiatan magang dan belajar di sekolah-sekolah kejuruan. Pola tersebut dinamakan sistem ganda. Karakteristik sistem ganda adalah kombinasi antara pengetahuan teori dan keterampilan praktek dalam suatu pelatihan. Di tempat kerja peserta didik belajar bagaimana mengatasi masalah sesuai dengan perubahan permintaan pasar, serta menghargai perbedaan kehidupan sosial yang berkembang di lingkungan kerja.

Lebih lanjut, Jenna Petrosky (www.rheinneckar.ihk24.de; 2011) menyatakan : “The German apprenticeship system is commonly referred to as ‘the dual system of education’ as it combines on-the-job training with theory taught in public schools”. Sistem pertukangan di Jerman merupakan pendidikan sistem ganda, karena mengkombinasikan antara pelaksanaan pelatihan dengan teori di sekolah-sekolah umum. Sejalan dengan itu Wikipedia (2011) menyatakan: Dual Education System is called “dual” because it combines apprenticeships in a company and vocational education at a vocational school in one course. In the company, the apprentice receives practical training which is supplemented by theoretical instruction in the vocational school.  Sistem pendidikan disebut “ganda” karena merupakan kombinasi antara pelaksanaan magang di perusahaan/industri dan pelaksanaan  pembelajaran di sekolah kejuruan dalam satu kegiatan. Di perusahaan peserta didik melaksanakan magang setelah memiliki bekal kemampuan teori dari sekolah kejuruan.

Muliaty A. M. (2005/2007) dalam promosi doktornya di UNJ mengemukakan ; “Basically Dual System of Education of Vocational High School is education and training system for vocational competence that is conducted in vocational schools and business work to produce middle level workers with special skills”. Pendidikan sistem ganda pada sekolah menengah kejuruan merupakan sistem pendidikan dan pelatihan untuk memperoleh kemampuan kerja yang diselenggarakan pada sekolah-sekolah kejuruan dan bekerja di perusahaan untuk menghasilkan tenaga kerja tingkat menengah yang mempunyai keahlian tertentu. Dalam penerapan pendidikan sistem ganda di SMK di Indonesia, disebutkan : “The Indonesia vocational education system is somewhat similar to what is implemented in Germany and Finland” (Dual Education System on Wikipedia). Pendidikan sistem ganda di Indonesia relatif sama, seperti yang diselenggarakan di Jerman dan Finlandia.

Adapun Crow and Crow (1960: 20) mengemukakan “the function of education must be recognized to be guidance of a learner, at all stages of his wants, needs, and potentialities that will insure for him a personally satisfying and socially desirable pattern of living”. Fungsi pendidikan harus difahami sebagai upaya membimbing peserta didik yang sesuai dengan keinginan, kebutuhan, dan kemungkinannya untuk dapat memberikan kepuasan secara pribadi maupun dalam kehidupan sosial secara layak. PSG sebagai alternatif perubahan dalam pelaksanaan pembelajaran di SMK, dengan melibatkan banyak institusi kerja sebagai pasangan langsung dan aktif dalam proses pembelajaran, diharapkan bisa menghantarkan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Tujuan Pendidikan Sistem Ganda

Merujuk kepada Kepmendikbud RI Nomor 323/U/1997 tentang Penyelenggaraan PSG pada SMK (pasal 2), tujuan PSG adalah: (a) Meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan kejuruan melalui peranserta IP; (b) Menghasilkan tamatan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja; (c) Menghasilkan tamatan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang menjadi bekal dasar pengembangan dirinya secara berkelanjutan; (d) Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan; (e) Meningkatkan efisiensi penyelenggaraan pendidikan menengah kejuruan melalui pendayagunaan sumberdaya pendidikan yang ada di dunia kerja.

REPORT THIS AD

Sejalan dengan itu, Konsep PSG pada SMK (1996: 8) menyebutkan tujuan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan dengan pendekatan PSG adalah:

  1. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional, yaitu tenaga kerja yang memiliki tingkat pengetahuan, keterampilan, dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja.
  2. Meningkatkan dan memperkokoh keterkaitan dan kesepadanan (link and match) antara lembaga pendidikan pelatihan kejuruan dan dunia kerja.
  3. Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan kerja berkualitas profesional.
  4. Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman keja sebagai bagian dari proses pendidikan.

Tujuan pembelajaran program PSG yang banyak dipengaruhi oleh dinamika kehidupan masyarakat, diharapkan secara terstandar dapat menghantarkan peserta didik menjadi lulusan SMK yang berkemampuan relevan. Adapun “standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik” (Peraturan Mendiknas RI nomor 23 tahun 2006; pasal 1, ayat 1). Standar kompetensi lulusan SMK menggambarkan harapan masyarakat terhadap hasil pembelajaran.

Sejalan dengan tujuan pembelajaran program PSG, Suwarma AL-Mukhtar (1992; 78) mengemukakan bahwa dalam perkembangannya hendaknya dapat memenuhi “harapan masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan dan hidup lebih baik”, mengingat keberadaan institusi pendidikan adalah diperuntukkan bagi peningkatan kehidupan masyarakat, khususnya lingkungannya.

Tujuan pembelajaran program PSG merupakan rujukan dalam pembinaan dan pengembangan kemampuan peserta didik yang sejalan dengan dinamika kehidupan masyarakat, dapat memberikan bekal berharga bagi lulusan SMK untuk dapat meraih kehidupan yang lebih baik. Pembelajaran program PSG di SMK yang bertujuan menghasilkan tenaga kerja tingkat menengah, dalam dinamikanya dipengaruhi oleh perubahan kebutuhan institusi kerja terhadap hasil pembelajaran, seperti yang dikemukakan As’ari Djohar pada Pidato Pengukuhan Guru Besar UPI (2008; 5) yaitu ; “dari hanya mampu bekerja dengan teknologi madya menjadi mampu bekerja dengan teknologi canggih dan dari hanya mampu bekerja di dalam negeri menjadi mampu bekerja di luar negeri”. Tujuan pembelajaran program PSG dalam perkembangannya sejalan dengan dinamika kehidupan masyarakat yang banyak melahirkan macam atau bentuk pekerjaan baru, sejalan dengan upaya pemenuhan kebutuhan tenaga kerja yang mempunyai persyaratan dan keterampilan kerja yang berbeda dari sebelumnya.

Tujuan pembelajaran program PSG disusun dan dikembangkan secara dinamis sejalan dengan perubahan kebutuhan institusi kerja atau kehidupan masyarakat, menggambarkan suatu pemenuhan kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap proses dan hasil pembelajaran. Tujuan pembelajaran program PSG menggambarkan suatu kombinasi yang sinkron dan dinamis dalam menyajikan pembelajaran dan prakerin sesuai dengan standar pelaksanaan pembelajaran program PSG.

sumber:https://jodenmot.wordpress.com/

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar